Ukhuwah Menembus Perbedaan Antar Bangsa

oleh Meti Herawati

Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa tiada lain untuk saling mengenal, menyayangi dan mengasihi. Islam sebagai ajaran yang sangat indah mengajarkan kepada umatnya untuk saling bersaudara walaupun berbeda keturunan bahkan Bangsa. Indahnya ukhuwah yang diajarkan Islam sangat Saya rasakan ketika Kami sekeluarga bermukim di Malaysia, menempati perumahan pelajar yang menampung mahasiswa berkeluarga dari berbagai Negara.

Kami menempati Blok G-04 dengan empat rumah, dua rumah orang diisi keluarga Indonesia ( termasuk keluarga Kami ), satu rumah diisi oleh keluarga Melayu dan satu rumah oleh keluarga Sudan. Dengan semua tetangga ini Kami berhubungan sangat baik, dengan keluarga yang berasal dari Indonesia dan Melayu sama sekali tidak ada kendala. Karena Kami memiliki latar belakang Budaya dan Bahasa yang sama.

Tetapi dengan saudara dari Sudan ini Saya menemui kendala Bahasa, Zainab istri brother Sudan ini hanya bisa menggunakan bahasa Arab saja sedangkan Saya sama sekali tidak bisa. Namun perbedaan Bahasa ini sama sekali tidak mengendorkan ukhuwah Kami, Kalau ada kesempatan kami bermain bersama-sama menjaga buah hati Kami.

Bahkan ketika Saya melahirkan anak ketiga, hampir setiap hari Zainab main ke rumah membantu momong anak kedua Kami yang masih kecil sambil membawa makanan khas Sudan. Lucunya karena satu sama lain tidak saling memahami bahasa yang digunakan, Kami pun sambil berbicara menggunakan Bahasa isyarat. Kalau dia bertanya dalam bahasa Arab Saya menjawabnya dalam bahasa Indonesia, ternyata nyambung juga.

Keluarga Sudan ini dikarunia dua orang putra yang terkenal nakal-nakal, Saya sudah diwanti-wanti sama tetangga yang lain untuk waspada karena kedua bocah ini suka bikin ulah. Benar saja, tembok rumah Kami disemprotnya pake cat mobil, anak kucing dimasukan ke mesin cuci sampai mati. Mau ngadu ke ibunya juga bingung bicaranya dan takut menyinggung.

Saya berpikir, anak-anak ini masih bisa didekati dan dijadikan sahabat. Saya mulai mendekati anak-anak ini. Siang-siang biasanya mereka suka ngetok-ngetok jendela, sehingga anak-anak terbangun dari tidur siangnya mungkin mereka pingin ngajak main tapi waktunya tidak pas.

Saya sampaikan kalo mau main ke rumah umi Tia nanti ya sore. Betul saja jam empatan dua kakak beradik itu sudah ngetok-ngetok pintu, Saya jamu mereka dengan makanan dan minuman sambil diajak ngobrol, kebetulan Ali anak yang besar bisa berbahasa Melayu karena sudah sekolah. Setelah didekati ternyata mereka jinak juga, tidak terlalu bikin ulah bahkan mereka nampak sangat sayang dengan kedua putri Kami. Karena seringnya berinteraksi mereka sedikit-sedikit bisa berbahasa Sunda, bahkan Saya memanggil mereka dengan sebutan Jang Ali dan Jang Ahmad.

Kalo sudah dipanggil Jang mereka nampak suka sekali. Saya dan suami beranggapan mereka nakal karena tidak ada aktifitas positif sehingga cari aktifitas sendiri. Untuk menyalurkan tenaga mereka Kami membuat kebun di halaman belakang, tiap pulang sekolah Ali mencangkul tanpa disuruh sambil nunggu suami pulang dan nemanin dia mencangkul, Kami nanam singkong, cabai, dan lain-lain.

Namun sayang kebersamaan Kami harus diakhiri karena ayahnya Ali sudah selesai studinya dan harus segera kembali ke Sudan. Ketika menjelang pulang itu Zainab mewariskan perabotannya kepada Saya, kata Dia ini permintaan Ali supaya perabotan ini dikasihkan pada ummi Tia bahkan Ali sendiri yang mengemas.

Duh terharu juga saya dengan sikap Jang Ali ini. Ketika tiba waktunya mereka berpamitan, yang membuat terharu kedua anak ini merangkul Saya sambil menangis sampai membuat kedua orang tuanya pun menangis terharu. Saya masih melihat butiran air matanya mengalir ketika mereka sudah berada di dalam mobil yang mengantar mereka ke bandara, lambaian tangannya terasa sangat berat karena tak ingin berpisah.

Dua tahun berselang, Ayah Ali kembali ke Malaysia dan bertemu dengan suami di mesjid, ternyata Dia masih mengingat Kami. Bahkan menurut ceritanya Ali masih suka bercerita tentang Kami, bahkan sekali-kali Dia ngomong bahasa Sunda. Dia ingin sekali mengunjungi Kami dan bermain bersama lagi.

Subhanalloh persaudaraan yang dilandasi keimanan dan ketulusan ternyata tidak lekang oleh waktu dan jarak yang memisahkan. Mudah-mudahan suatu hari nanti Kita dipertemukan lagi.

0 komentar:

Poskan Komentar